Stay with Me: Kembalinya Sutradara Bonek, Rudi Soedjarwo

Tahun 2016 saya prediksi akan menghasilkan banyak film-film bagus. Diantara film-film tersebut, ada satu underdog yang menurut saya penting untuk diikuti, Stay with Me. Film yang rilis 25 Februari 2016 ini disutradarai oleh Rudi Soedjarwo, sutradara yang saya kenal tahan banting ala bonek (bondo nekat). Setelah lama vakum, kini dia kembali dengan gaya (with style).

Stay with Me sebenarnya adalah kisah hidup Rudi Soedjarwo. Sesuai dengan trademark-nya yang selalu inovatif, ia ingin membawa kita dalam pengalaman baru menonton film romantis. Karena itu ia  membuatnya tidak hanya sekedar sebuah drama romansa, melainkan menambahkan kembangan cerita yang ‘cukup berat’. Lebih spesifiknya, Rudi menitipkan pesan kegelisahannya atas kondisi industri film tanah air yang tak kunjung ramah bagi para pelaku di dalamnya. Jadilah kemudian premis yang dibangun terpusat pada sosok Boy (diperankan Boy William)—seorang sutradara sekaligus produser yang berjuang di belantara industri film Indonesia yang keras. Boy berbaku-cinta dengan Deyna (Ully Triani), perempuan kelas menengah yang sukses dan mandiri.

Dari bangunan premis tersebut, Rudi membuat jalan cerita yang mengalir pelan. Meski beralur ‘selow’, film ini sangat komunikatif—mengajak penontonnya berdialog dengan para tokoh di dalamnya. Hubungan diantara kedua tokoh utamanya, Boy dan Deyna, dibangun dengan telaten dan teliti. Di setiap persimpangan hubungan mereka, penonton selalu diajak untuk ikut dalam pengambilan keputusan. Hebatnya Rudi, setiap keputusan yang akan diambil tersebut selalu terasa dilematis. Tidak ada yang seratus persen benar atau seratus persen salah dari tiap-tiap opsi keputusan yang dimiliki Boy dan Deyna.  Disinilah penonton terkoneksi dengan dilema yang mereka alami, sehingga secara tidak sadar menjadi gemas ingin menyarankan keputusan yang terbaik bagi masing-masing.

Treatment Rudi Soedjarwo terhadap cerita begitu sederhana di film ini. Namun itulah yang menjadikan penonton, terutama yang dewasa dan telah memiliki pasangan, bisa dengan mudah terkoneksi dengan dinamika hubungan Boy dan Deyna. Boy digambarkan sebagai laki-laki yang rapuh sekaligus tegar dan ambisius, begitu juga dengan Deyna yang digambarkan sebagai perempuan yang independen namun tunduk pada norma sosial. Kontradiksi-kontradiksi ini memperkaya interpretasi penonton terhadap pesan yang disampaikan film ini.

Yang cukup segar dari film ini adalah upayanya menghadirkan dialektika tentang realita bisnis film di tanah air. Sebagai industri yang baru saja tumbuh, wajar banyak ketidakpastian yang mewarnainya. Ini digambarkan Rudi lewat  jatuh bangunnya Boy, yang diceritakan sedang membangun perusahaan startup produksi film. Tujuan Boy cuma satu, menunjukkan kepada Deyna bahwa dia mampu menaklukkan industri ini. Boy menjadikan ambisi tersebut sebagai proxy untuk menunjukkan kepada Deyna bahwa dia mampu membahagiakannya (jika memilih hidup bersama Boy).

Dalam kegalauan cintanya yang tidak berujung tersebut, tokoh Boy terus dipaksa oleh Rudi untuk melakukan pencarian demi pencarian eksistensi diri (mungkin karena tokoh ini adalah refleksi dirinya). Salah satu bentuk pencarian yang digambarkan dengan sangat menarik adalah saat Boy harus memutar otak untuk mencari model bisnis terbaik bagi perusahaan barunya. Di titik ini, Rudi memasukkan realita industri film dalam jalinan cerita.

Sebagaimana kita ketahui, mencetak laba adalah urusan paling sulit di industri film kita. Ini salah satunya karena jumlah layar hanya 1100-an yang meng-cover kurang dari 20 persen wilayah urban. Hitungan saya berdasarkan data lima tahun terakhir menunjukkan hanya 10 persen dari jumlah total film Indonesia yang berhasil memperoleh penonton diatas 200.000 orang setiap tahunnya. Berapa pendapatan produser jika film mereka mencapai angka dua ratus ribu penonton tersebut? Dengan asumsi pendapatan kotor 15 ribu rupiah per-tiket, maka didapatkan angka 3 miliar rupiah. Besarkah angka ini? Jawabannya tidak. Untungkah produser dengan angka tersebut? Jawabannya tergantung, kalau tidak bisa dibilang kemungkinan besar tidak untung.

Menghadapi industri seperti ini, para produser tentunya harus punya seribu satu macam akal untuk tetap bisa untung. Hanya saja dalam kenyataannya, cukup sulit untuk bisa bertahan dengan situasi ini jika mereka tidak melakukan inovasi model bisnis. Disinilah kemudian Stay With Me memasukkan realita tersebut dalam konteks pembuktian diri Boy sebagai seorang sutradara dan produser film. Boy tidak menyerah pada realita industri, melainkan terus mencoba melakukan tweaking pada model bisnisnya.

Jalan cerita yang dirancang Rudi Soedjarwo tersebut sebenarnya menggambarkan behind the scene dari pembuatan film Stay with Me itu sendiri. Stay with Me dibuat dengan perspektif tersebut, yaitu bahwa industri ini tidak ramah bagi underdog seperti Rudi Soedjarwo. Namun bukan Rudi Soedjarwo namanya kalau tidak nekat melawan realita. Arek Suroboyo (yang tentu saja mengalir darah bonek di dalamnya) ini berhasil meyakinkan Rosa Rai Djalal untuk mendanai film ini sekaligus menjadikannya executive producer.

Rudi dan Rosa kemudian berkolaborasi dengan sangat kompaknya. Sebagai teman yang mengamati hasil kerja mereka, saya melihat keduanya berhasil membuat sebuah model bisnis alternatif dalam khasanah industri film tanah air. Model bisnis alternatif tersebut saya namakan Lean Film Management.

Dalam Lean Film Management, DNA pembuatan film dibentuk dengan mengacu pada dua asumsi yang telah saya hitung diatas: (1) bahwa kemungkinan sebuah film Indonesia menembus 200 ribu penonton hanya 1 banding 10; (2) sehingga dengan demikian kemungkinan untuk mendapatkan pemasukan 3 miliar Rupiah (dari tiket) probabilitasnya hanya 10 persen.

Kedua asumsi tersebut jika diaplikasikan untuk merancang sebuah model bisnis, akan menghasilkan DNA seperti berikut:

Pertama dari segi costing, sebuah film harus dirancang untuk meng-absorb 90 persen probabilita akan merugi. Caranya dengan mencari revenue stream tambahan diluar tiket, yaitu sponsorship, dengan nominal yang bisa menutup biaya produksi total.

Kedua dari segi proses produksi, sebuah film harus menerapkan lean filmmaking, dimana proses-proses yang tidak efisien diperbaiki untuk mengurangi inefisiensi yang jamak di industri kreatif. Selain itu pembuat film harus berani melakukan inovasi-inovasi yang terkait dengan teknis produksi film, dimana ujungnya adalah efisiensi.

Akhirnya sebagai satu paket, on the scene maupun behind the scene, saya bisa mengatakan bahwa Stay with Me adalah salah satu film paling penting di tahun 2016 ini. Dari jalan ceritanya, kita bisa belajar tentang struktur pengambilan keputusan ketika kita dihadapkan pada opsi yang dilematis. Pada gilirannya hati kita akan menjadi pijakan terakhir dalam membuat penentuan, setelah otak tidak mampu lagi melogikakan. Dari proses pembuatannya, kita banyak belajar tentang model bisnis alternatif dalam produksi film. Ada formula yang bisa kita ikuti untuk meningkatkan angka probabilitas sebuah film akan bisa mendapatkan keuntungan.

Seperti biasa, Rudi selalu tampil memberikan kebaruan pada industri film tanah air. Film ini mudah-mudahan menjadi awal yang baik bagi kembalinya sutradara bonek favorit saya tersebut.

 

Harryadin Mahardika

Reckless Capital (bondo nekat)

 

staywithme

No votes yet.
Please wait...
Harryadin MahardikaStay with Me: Kembalinya Sutradara Bonek, Rudi Soedjarwo

Leave a Reply