Memahami ‘Reputation Economy’

Era reputation economy di tanah air ‘resmi’ dimulai sejak Jokowi berhasil menggunakan kekuatan internet dan media sosial untuk mengantarkannya ke kursi kepresidenan. Dalam reputation economy, ‘reputasi’ menjadi komoditas yang luar biasa berharga. Tak lain dan tak bukan karena di jaman ini reputasi seseorang bisa sedemikian cepat dibangun dan juga bisa dengan cepat dirusak; utamanya melalui internet dan media sosial.

Dalam era ini setiap dosa dan pahala seseorang di internet dicatat oleh banyak ‘malaikat’. Malaikat-malaikat itu bernama Google, Facebook, Twitter, Yahoo, Instagram, Path, dan platform internet lainnya. Begitu nama anda diketik di kolom ‘search’ Google misalnya, maka dalam waktu kurang dari dua detik timbangan dosa dan pahala anda akan ditunjukkan oleh Google. Publik melakukan sintesis atas semua info tersebut untuk menilai ‘reputasi’ anda—apakah anda orang bereputasi baik atau bereputasi tidak baik. Apakah anda orang yang jujur atau tidak jujur; atau apakah anda orang yang kompeten atau tidak kompeten dalam suatu bidang.

Saking banyaknya jumlah informasi di internet tentang anda, terkadang publik tidak lagi sempat menyaring apakah informasi tersebut valid atau tidak. Sebagai gantinya mereka mengambil jalan pintas dengan cara ‘selective attention’. Publik akan membaca dan memproses informasi tentang diri anda yang sejalan dengan pra-persepsi awal mereka tentang anda. Jadi jika pra-persepsi mereka tentang anda cenderung negatif, maka mereka hanya akan melihat dan memproses informasi-informasi negatif tentang anda di internet dan media sosial. Ini adalah mekanisme yang disebut ‘perceptual confirmation’—dan inilah yang menjadikan reputation economy penting untuk difahami oleh siapapun yang peduli dengan reputasinya di internet dan media sosial.

Permainan Reputasi

Satu hal yang menjadi reputation economy menarik tapi sekaligus berbahaya adalah kenyataan bahwa saat ini seseorang bisa dengan mudah ‘mendesain’ reputasinya lewat internet dan media sosial. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar manusia kini menggunakan internet sebagai wahana interaksi sosial.

Teknologi digital mengubah pola manusia dalam mencari informasi. Kini kita menjadikan internet dan media sosial sebagai sumber utama informasi kita. Tidak hanya itu, kita juga sebenarnya ikut memproduksi informasi-informasi tersebut. Pergeseran perilaku kita ini menjadikan nilai informasi yang bersliweran di internet menjadi sangat penting. Kita menggunakan informasi-informasi tersebut sebagai referensi utama kita untuk merespon berbagai fenomena.

Ekosistem internet yang terbuka memungkinkan siapapun bisa memproduksi informasi tentang apapun dengan biaya yang sangat murah. Tak heran jika dalam waktu satu detik ribuan terabyte data dan informasi diproduksi di internet. Besarnya jumlah informasi yang diproduksi tersebut berbanding lurus dengan makin tingginya frekuensi kita mencari informasi. Sebagai ilustrasi, pengguna Google di seluruh dunia melakukan 40.000 pencarian dengan berbagai ‘keywords’ setiap detiknya. Di Indonesia sendiri tahun lalu terjadi sekitar 75 miliar kali pencarian ‘keywords’ hanya di Google saja. Ini kira-kira setara dengan 270 kali pencarian per-penduduk Indonesia dalam setahun. Bisa dibayangkan besarnya magnitude konten informasi tersebut dalam membangun persepsi di benak masyarakat Indonesia.

Mau tidak mau potensi reputation economy yang besar ini mengundang para ‘pemain’ untuk memanfaatkannya. Hal ini karena ada kebutuhan dari individu maupun organisasi untuk mengelola dan membangun‘reputasi’ mereka di internet. Ada empat jenis pemain reputation economy berdasarkan model bisnis mereka, yaitu: (1) mereka yang ‘memproduksi’ informasi; (2) mereka yang ‘menambang’ informasi; (3) mereka yang ‘memperbaiki/merusak’ informasi; dan (4) mereka yang ‘menghapus’ informasi.

Dengan harga tertentu, individu dan organisasi bisa mendesain ‘reputasi’ mereka sesuai apa yang disenangi oleh publik. Tidak hanya itu, mereka juga bisa memesan desain untuk melemahkan ‘reputasi’ kompetitor bisnis, lawan politik, atau pihak-pihak yang memiliki kepentingan berseberangan. Terciptalah apa yang kemudian dinamakan dengan ‘reputation game’, kondisi dimana internet dan media sosial digunakan sebagai pasar pertukaran dan transaksi ‘reputasi’.

Anorganik versus Organik

Sebagai sebuah pasar, tentunya ia akan mengikuti mekanisme ekonomi dalam pembentukan harga. Individu atau organisasi dengan sumberdaya keuangan yang besar akan lebih mudah mendesain ‘reputasi’ sesuai dengan keinginannya dibandingkan mereka yang sumberdayanya terbatas. Sehingga timbul istilah reputasi yang dibangun secara ‘anorganik’ versus ‘organik’.

Search engine besar seperti Google misalnya, mewadahi kedua cara membangun reputasi tersebut. Algoritma mereka untuk sisi organik akan menghitung faktor-faktor yang diasumsikan berkontribusi membangun reputasi seseorang/organisasi secara alamiah. Sementara di sisi lain, mereka juga membangun kesempatan bagi siapapun untuk membangun reputasi mereka secara anorganik. Algoritma anorganik Google mengacu pada hitungan kuantitatif yang jika dirunut akan bermuara pada jumlah Rupiah yang bersedia kita keluarkan untuk menjadikan informasi-informasi positif tentang kita bisa tampil di halaman-halaman awal hasil pencarian. Inilah bisnis utama Google yang menjadikannya perusahaan dengan kapitalisasi terbesar di dunia.

Tentu hal ini menimbulkan pro dan kontra. Banyak kejadian dimana kita merasa tertipu oleh reputasi yang dibangun secara anorganik. Meski demikian, banyak juga yang menganggap hal tersebut sebagai bagian dari permainan kehidupan di abad digital ini. Mereka yang pro mengatakan bawah membangun reputasi di internet dan sosial media tidak asyik jika hanya dilakukan secara organik (alamiah sesuai respon publik tanpa intervensi) tapi seharusnya juga bisa dengan cara anorganik (dengan kekuatan koneksi dan uang).

Permasalahannya, batasan antara anorganik dan organik itu kini menjadi sangat kabur. Misalnya, dulu kita yakin bahwa popularitas dan reputasi Jokowi tumbuh secara organik, terbangun secara alamiah sejak dia menjadi walikota Solo. Namun kini, tidak sedikit dari kita yang merasa ada faktor intervensi anorganik yang terjadi saat itu. Indikatornya sederhana, karena reputasi bagus yang dimiliki Jokowi di internet dan media sosial, tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan yang terjadi di lapangan (dalam kasus-kasus tertentu). Yang terjadi akhirnya kebingungan kolektif, dimana publik menjadi gamang saat memproses informasi tentang seseorang/organisasi yang ditengarai membangun reputasinya secara anorganik.

Kegamangan ini di masa depan akan semakin sering terjadi, tidak hanya di dunia politik tapi juga di dunia bisnis. Karena itu saya mengucapakan selamat datang di era reputation economy. Era dimana publik dipaksa harus lebih jeli dalam melihat reputasi individu/merek/organisasi yang terkait dengan hajat hidup rakyat banyak.

By Harryadin Mahardika
Original article was published at Majalah Marketing, June edition

Rating: 5.0. From 5 votes.
Please wait...
Harryadin MahardikaMemahami ‘Reputation Economy’

Leave a Reply