E-Commerce dan Pengiriman Barang di Hari Lebaran

Bagi sebagian besar konsumen, kecepatan dan ketepatan waktu pengiriman barang begitu berarti dalam menilai bagus tidaknya sebuah e-commerce. Saking pentingnya kecepatan dan ketepatan waktu ini, sebagian konsumen rela membayar lebih mahal untuk layanan express.

Masalahnya, pada bulan Ramadhan, kecepatan dan ketepatan waktu layanan jasa pengiriman barang menjadi lebih sulit dicapai karena lonjakan traffic pengiriman barang yang jauh lebih tinggi. Tantangan yang dihadapi oleh e-commerce di saat peak season seperti lebaran ini adalah masalah yang selalu muncul setiap tahun. Bulan Ramadan selalu mendatangkan jumlah permintaan yang tinggi, di beberapa e-commerce bahkan bisa mencapai dua sampai tiga kali lipat bulan normal.
Beberapa tahun terakhir kita mendengar keluhan pemain e-commerce terhadap ketidakmampuan perusahaan pengiriman barang men-handle kenaikan traffic barang selama Ramadhan.

Lalu bagaimana tantangan ini dapat diselesaikan bersama oleh e-commerce dan perusahaan pengiriman barang?

Kapasitas x Inovasi

Kita mahfum bahwa bisnis e-commerce terkait erat dengan bisnis pengiriman barang. Booming yang terjadi di industri e-commerce tanah air masih diliputi dengan permasalahan di sisi bisnis pengiriman barang. Diantara permasalahan-permasalahan tersebut, kapasitas dan inovasi layanan menjadi tantangan terbesar. Pembangunan kapasitas tidak mudah dilakukan terutama karena kondisi geografis dan inrastruktur Indonesia. Sedangkan inovasi juga tidak mudah karena ekosistem teknologi yang diadopsi oleh industri pengiriman barang sangat beragam.

Perusahaan pengiriman barang di Indonesia perlu lebih serius dalam membangun kapasitas agar mampu menjamin kualitas layanan yang stabil. Pertumbuhan penjualan online yang sangat tinggi membuat ekspektasi terhadap layanan pengiriman barang juga semakin tinggi. Pembangunan kapasitas penting untuk memastikan stabilitas layanan sepanjang tahun. Sehingga antara peak season dengan low season, kualitas layanan tidak bisa dipertahankan. Hal ini secara tidak langsung juga akan berpengaruh terhadap brand dari e-commerce sendiri. Sebagian konsumen menganggap kualitas layanan dari pengiriman barang merefleksikan kualitas layanan e-commerce tempat mereka membeli barang tersebut.

Selain perlunya membangun kapasitas, perusahaan jasa pengiriman barang perlu terus melakukan inovasi. Terobosan-terobosan baru sangat dinantikan oleh e-commerce dan konsumen. Namun perlu dihindari inovasi yang berorientasi marketing gimmick (dianggap sesuatu yang nice to have), namun tidak serta merta membuat e-commerce dan konsumen merasakan manfaat nyatanya.

Diantara inovasi yang cukup membantu adalah layanan pick up service dan tracking barang. Layanan pic-up membantu memudahkan operasional e-commerce. Sementara layanan tracking e-commerce maupun perusahaan jasa pengiriman secara aktif memberikan kabar saat terjadi kendala pengiriman. Inovasi ini umumnya dicangkokkan dan dioptimalkan melalui aplikasi mobile yang dimiliki perusahaan jasa pengiriman. Selain inovasi tersebut, perusahaan pengiriman barang juga umumnya memberikan asuransi untuk menjamin keamanan barang sehingga konsumen tidak merasa cemas.

Kolaborasi E-commerce dan Perusahaan Pengiriman Barang

Dalam memilih vendor jasa pengiriman, para pemain e-commerce umumnya memberikan opsi kepada konsumen untuk memilih. Biasanya, reputasi serta jangkauan menjadi pertimbangan yang diambil saat menentukan vendor apa yg akan digunakan. Kelebihan masing-masing vendor menjadi pertimbangan tersendiri. Contoh-nya apabila pembeli berdomisili di daerah Jabodetabek, maka Gojek bisa menjadi opsi untuk mengirim barang. Tetapi jika pembeli berdomisili di luar jabodetabek atau di luar Jawa, maka vendor dengan coverage yang luas seperti JNE,Tiki dan PT Pos bisa menjadi opsi.

Perusahaan e-commerce besar biasanya memiliki beberapa partner vendor pengiriman barang sekaligus. Hal ini karena masing-masing vendor memiliki keunggulan kompetitif tersendiri. Ada yang memiliki jangkauan yang bagus di Jawa, ada yang bagus di luar Jawad an daerah-daerah pelosok.

Faktor penting lainnya yang menjadi pertimbangan adalah apakah vendor tersebut menerima transaksi COD. Tidak bisa dihindari bahwa transaksi COD (cash on delivery) masih cukup besar porsinya di bisnis e-commerce Indonesia. Konsumen masih menggunakan sistem COD karena selain tidak memiliki alat pembayaran digital, juga karena merekaingin bisa melihat kondisi barang dengan lebih jelas sebelum memutuskan untuk membeli. Sistem COD menambah beban e-commerce maupun perusahaan jasa pengiriman karena ada kemungkinan barang dikembalikan setelah dievaluasi oleh konsumen (mereka tidak jadi membeli).
Hal yang menjadi kekhawatiran utama e-commerce besar ketika menggunakan vendor pengiriman barang adalah adalah ketika mereka menghadapi situasi yang dinamakan ‘masuk lubang hitam’ (kondisi di luar pengetahuan). Ketiadaan informasi dari perusahaan jasa pengiriman sangat menyulitkan e-commerce untuk memberikan layanan terbaik kepada konsumen. Misalnya informasinya kondisi barang bagaimana, sudah sampai mana, dan sebagainya. Informasi tentang keberadaan barang dianggap penting oleh konsumen. Info bisa diberikan melalui notifikasi melalui SMS yang menunjukan status pengiriman.

E-commerce memiliki panduan profiling kompetensi masing-masing perusahaan pengiriman barang. Profiling tersebut meliputi: tujuan barang, ekspektasi waktu, COD atau bukan, gudang terdekat, dan lain-lain. Jika alternatif pengiriman barang A (paling sesuai dengan kebutuhan) penuh, maka e-commerce akan menggunakan alternatif B. Alternatif A biasanya adalah layanan pengiriman barang in-house milik e-commerce. Ketika in-house pengiriman barang e-commerce full maka mereka baru menggunakan alternatif B, C,D, E, dst. Sistem e-commerce ini sudah memiliki roadmap yang bisa memberikan rekomendasi.

Terakhir, kemampuan integrasi teknologi antara e-commerce dengan perusahaan jasa pengiriman juga menjadi pertimbangan. E-commerce telah memiliki sistem sendiri, termasuk kemampuan untuk berbicara dengan sistem dari masing-masing vendor layanan pengiriman barang yang mereka gunakan. Yang harus ditawarkan perusahaan pengiriman barang adalah sistem yang terintegrasi dengan mudah. Disinilah value yang bisa diberikan oleh vendor. Integrasi tersebut terdiri dari dua aspek, pertama dari sisi inventory, kedua ada sisi informasi pengiriman.

Kesimpulannya, e-commerce harus terus mendorong perusahaan jasa pengiriman barang untuk melakukan inovasi dan peningkatan kapasitas. Kolaborasi erat antara dua industri ini bisa menjadi kunci untuk mengatasi tantangan geografis dan infrastruktur di Indonesia. Sehingga tujuan untuk memberikan layanan yang selalu stabil di bulan Ramadhan di masa mendatang dapat segera diwujudkan.

Harryadin Mahardika
Originally published in Marketing (June 2016)

No votes yet.
Please wait...
Harryadin MahardikaE-Commerce dan Pengiriman Barang di Hari Lebaran

Leave a Reply