Digital Detox

Hari-hari ini banyak dari kita yang mulai lelah dengan media sosial. Alasannya sederhana, manusia punya keterbatasan kapasitas dalam mengolah informasi. Semakin banyak kita memiliki akun medsos, tentunya semakin banyak pula energi yang harus disediakan untuk ‘mengelola’ akun-akun itu semua.

Tipikal manusia Indonesia di era ini rata-rata memiliki 4 akun medsos dan beberapa aplikasi pengiriman pesan. Sebutlah facebook, twitter, instagram, path, whatsapp, telegram dan line. Kesemuanya itu adalah set kombinasi minimal yang ada di ponsel milik manusia Indonesia masa kini.

Wajar jika kemudian hidup kita menjadi melelahkan. Berinteraksi di medsos memerlukan kecepatan berpikir dan konsentrasi yang tinggi.

Kecepatan diperlukan karena kita tidak ingin ketinggalan hype, tren atau kekinian yang sedang menjadi topik hangat diluar sana. Disaat orang-orang bicara tentang ‘mukidi’, serta merta kita bergerak cepat menyusun postingan tentang mukidi tersebut.

Selain kecepatan, konsentrasi tinggi juga diperlukan karena kita tidak mau terlihat ‘bodoh’ di medsos. Sebisa mungkin kita ‘behave’ di medsos agar tidak terkena bully, dan karenanya musti senantiasa fokus ketika bermain medsos. Salah posting sedikit bisa panjang urusannya. Publik bisa menjatuhkan hukuman yang luar biasa kejam untuk kesalahan yang kecil. Akibatnya hidup ini menjadi semakin melelahkan bagi mereka yang aktif ber-medsos.

Kelelahan massal ini menjadikan tugas marketer di masa mendatang semakin rumit. Hal mendesak yang harus dijawab oleh marketer tentunya adalah: apakah iklan dan promosi yang kita lakukan di medsos menjadi bagian yang menambah kelelahan yang dialami para pengguna medsos? Dan karena itu kemudian membuat pengguna medsos cenderung akan semakin mengabaikan iklan dan promosi di medsos?

Saat ini muncul gerakan yang dinamakan ‘digital detox’. Mereka umumnya organisasi, paguyuban atau kumpulan orang-orang yang mengkampanyekan perlunya manusia membatasi penggunaan medsos. Di beberapa negara, gerakan ini semakin menguat dan perlu menjadi perhatian para marketer yang saat ini aktif menggunakan medsos sebagai media beriklan.

Epidemi Kelelahan Medsos

Salah satu lembaga global yang khusus meneliti tentang kelelahan di medsos adalah Gartner. Melalui survei-nya di tahun 2011, lembaga ini bahwa social media fatigue paling banyak terjadi pada early adopter dan konsumen yang berusia dibawah 40 tahun (31% mengalami kelelahan medsos). Gartner juga mengatakan bahwa pesan-pesan iklan dan promosi dari perusahaan menjadi salah satu penyumbang terbesar dari kelelahan yang dialami. Sejalan dengan riset Gartner tersebut, Trendstream turut melaporkan bahwa secara rata-rata telah terjadi penurunan jumlah jam yang dihabiskan dalam penggunaan medsos sejak tahun 2009, terutama di negara maju. Diduga hal ini terjadi karena social media fatigue yang dialami para early adopter.

Epidemi kelelahan pada medsos ini mulai meluas dan kemudian banyak yang mencoba mencarikan solusinya. Kita melihat beberapa aplikasi seperti Socialoomph mencoba membantu pengguna medsos melakukan otomatisasi pada akun mereka. Hal yang sama ditawarkan oleh Hellotxt dan OnlyWire, dimana pengelolaan semua akun medsos bisa dilakukan melalui satu aplikasi. Namun aplikasi-aplikasi tersebut hanya bisa membantu tanpa mampu mengobati sumber kelelahan utamanya. Apa sumber utama tersebut?

Posting, likes, comments, follow, share, reply, dan sebagainya adalah hal-hal yang kita lakukan sepanjang waktu di medsos. Saking rutin dan lamanya kita melakukan hal-hal tersebut, akhirnya menjadis semacam ‘gerakan refleks’ bagi kita. Begitu mendengar bunyi notifikasi, secara refleks kita langsung melakukan salah satu dari enam hal diatas. Otak kita telah dilatih untuk merespon secara spontan apapun yang keluar dari medsos.

Terciptanya refleks ini sebenarnya mirip dengan efek kecanduan. Kita tidak menyadari dan merasa apa yang kita lakukan masih wajar-wajar saja. Namun begitu kita pusing kepala tanpa sebab, stamina menurun, konsentrasi hilang, dan tingkat stres meningkat, barulah kita secara malu-malu mengakui bahwa kita telah kecanduan medsos.

Kondisi yang dialami para pengguna medsos tersebut dijelaskan oleh teori ‘The Limited Capacity Model of Motivated Mediated Message Processing’ (LC4MP). Teori ini yakin bahwa manusia memiliki keterbatasan kapasitas saat memproses informasi. Terutama karena otak manusia punya prosedur baku saat memproses informasi. Prosedur baku tersebut adalah ‘encoding, storage, dan retrieval’. Ketiga prosedur ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain, apapun jenis informasinya.

Inilah yang membuat medsos menjadi sumber kelelahan mental yang paling utama. Karena begitu banyaknya informasi yang diproduksi dan diciptakan didalamnya, termasuk informasi-informasi sampah yang ternyata tetap diproses otak kita (meski kita telah melakukan selective attention).

Marketer dan Digital Detox

Kesadaran akan perlunya melakukan detosifikasi digital mulai terbangun di kalangan pengguna medsos. Beberapa yang ekstrem akan mendetoksifikasi dirinya dari medsos dengan menarik diri secara total; semua akun medsos dihapus. Yang moderat akan membatasi penggunaan secara disiplin, sehingga pelan-pelan bisa kembali mengendalikan penggunaan medsosnya.

Karena marketer turut menyumbang overload informasi yang kemudian menyebabkan social media fatigue tersebut, maka perlu difikirkan strategi agar marketer bisa juga terlibat dalam proses detoksifikasinya. Keterlibatan ini penting karena mereka yang melakukan digital detox ini tentunya bisa lepas sebagai calon konsumen jika dia kemudian sama sekali tidak lagi mengakses medsos.

Yang perlu dilakukan adalah mengarahkan proses detoksifikasi ini menuju satu kebiasaan yang lebih sehat dan positif, tanpa secara ekstrem putus hubungan dengan medsos. Peran marketer dan brand bisa menjadi sangat penting disini. Mereka bisa berperan dengan kampanye penggunaan medsos yang sehat, ditujukan pada segmen-segmen yang spesifik seperti segmen wanita karier, ibu rumah tangga, anak-anak, dan remaja.

Khusus bagi-bagi marketer produk-produk kesehatan dan hiburan, tren ini bahkan bisa dijadikan sebagai pintu masuk untuk membangun ‘story’ dari produk mereka. Yang perlu dilakukan pertamakali adalah menimbulkan awareness terhadap penyakit kelelahan medsos. Kemudian diikuti dengan memberikan opsi-opsi apa saja yang bisa dilakukan oleh seseorang yang ingin mengurangi kelelahan tersebut. Berikutnya, marketer bisa mengintegrasikan produknya sebagai bagian dari proses detoksifikasi yang dilakukan.

Misalnya sebuah jaringan hotel, bisa menawarkan paket digital detox untuk keluarga. Paket tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga konsumennya akan mendapatkan liburan yang sekaligus menjadi semacam camp detosifikasi. Dalam paket ini, pihak hotel akan membantu konsumen untuk meregulasi penggunaan medsos saat berada di area hotel. Selain itu juga disediakan ahli yang bisa memberi motivasi dan panduan bagi mereka yang ingin mengubah kebiasaan ber-medsos-nya menjadi lebih sehat.

Seribu satu macam cara lainnya tentunya bisa dilakukan dengan menggunakan tema digital detox ini. Yang penting, marketer faham bahwa tidak lama lagi jumlah konsumen yang mulai sadar bahwa mereka harus ber-medsos dengan lebih sehat akan semakin meningkat. Ini adalah ancaman namun sekaligus bisa jadi peluang bagi mereka yang inovatif.

Harryadin Mahardika
Kepala Program Studi Magister Manajemen Universitas Indonesia (MMUI)

Rating: 5.0. From 2 votes.
Please wait...
Harryadin MahardikaDigital Detox

Leave a Reply